Nilai Kopi yang Tumbuh di Bawah Kanopi Hutan

Read in English here.

Harga kopinya bagus!”

Itulah yang berulang kali didengar oleh Alex Tee, Managing Director Beneficial Returns, ketika ia bertemu para petani kopi di Bajawa, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia.

Para petani ini berasal dari komunitas Adat Ngada, yang telah membudidayakan kopi di bawah kanopi hutan selama beberapa generasi. Berbeda dengan perkebunan konvensional, kopi Arabika mereka tumbuh berdampingan dengan vegetasi asli, tanpa pupuk kimia maupun pestisida, sehingga menjaga keanekaragaman hayati dan melindungi hutan di sekitarnya.

Kiri: Gunung Inerie, yang tanah vulkaniknya menyuburkan wilayah ini, diyakini masyarakat Ngada sebagai tempat bersemayamnya dewa pelindung. Kanan: Kopi hasil budi daya hutan di Bajawa.

Namun, meskipun menghasilkan kopi Arabika yang luar biasa, para petani selama ini kesulitan memperoleh harga yang sepadan dengan kualitas kopi yang mereka hasilkan. Terbatasnya infrastruktur pengolahan lokal dan akses ke pasar spesialti membuat sebagian besar nilai potensial kopi ini justru diperoleh pihak lain.

JYN Coffee membantu mengubah keadaan ini.

Didirikan pada tahun 2022, perusahaan yang berbasis di Bajawa ini membeli buah kopi (coffee cherries) dari sekitar 75 petani Adat Ngada. JYN Coffee membayar buah kopi yang dipanen dengan harga premium kepada petani dan mengolahnya secara lokal menjadi green bean (kopi hijau) berkualitas spesialti untuk pasar internasional.

Rata-rata pendapatan selama musim panen 2026 yang berlangsung tiga bulan diperkirakan mencapai US$2.200 per petani.

Namun, hubungan JYN dengan Komunitas Adat Ngada ini sudah terjalin jauh sebelum pembelian kopi dimulai.

Ketika co-founder Nicola Finardi mencari lahan untuk membangun fasilitas pengolahan perusahaan, ia mendekati sebuah keluarga Ngada setempat, yakni: Opa Ignasius, Oma Paulina, dan putra mereka, Thomas. Kepercayaan terbangun secara bertahap, melalui serangkaian pertemuan yang semakin mendekatkannya dengan rumah leluhur keluarga tersebut.

Ketika akhirnya mereka setuju menyewakan lahan tersebut, mereka berkata kepada Nicola: “Sekarang kamu sudah menjadi keluarga.”

Kini, pabrik pengolahan tersebut berdiri di samping rumah mereka, dan Thomas bekerja bersama JYN untuk mengelola hubungan dengan para petani kopi lokal.

Left to right: Thomas, Nicola, Oma Paulina, Opa Ignasius, and Yalle.

Selain memberikan harga yang lebih baik, JYN Coffee juga berupaya meningkatkan produktivitas jangka panjang lahan kopi melalui pelatihan pemangkasan dan peremajaan pohon-pohon kopi yang sudah tua, serta penyediaan bibit untuk penanaman kembali.

Kiri: Biji kopi yang sedang diproses (pulping) di fasilitas pengolahan JYN. Kanan: Yalle, co-founder JYN Coffee, memeriksa biji kopi yang sedang dikeringkan.

Beneficial Returns menyetujui pinjaman modal kerja untuk mendukung JYN membeli lebih banyak kopi dari petani lokal dan memenuhi pesanan ekspor yang terus bertumbuh.

Kondisi dimana petani tidak perlu memilih antara memperoleh penghidupan yang lebih baik atau melestarikan hutan mereka, membuat model ini menjadi begitu menarik. Dengan meningkatkan nilai kopi hutan tradisional, JYN memperkuat mata pencaharian petani sekaligus menciptakan insentif ekonomi untuk melestarikan ekosistem yang menjadikan kopi Bajawa begitu istimewa.

Wilayah ini juga sempat diguncang gempa besar pada Agustus 2026. Meskipun guncangannya mengejutkan para petani dan keluarga mereka pada dini hari, namun lahan pertanian dan pabrik pengolahan tidak terdampak.

Bagi komunitas yang menghadapi peluang ekonomi sekaligus bencana alam, mata pencaharian yang lebih kuat dapat berkontribusi pada ketahanan yang lebih baik. Mendukung perusahaan seperti JYN adalah salah satu cara Beneficial Returns membantu komunitas membangun ketahanan tersebut, sambil tetap melestarikan lanskap tempat mereka bergantung.