Di Kalimantan Barat, di sisi Indonesia dari Pulau Kalimantan (Borneo), Forest Wise telah bertahun-tahun bekerja sama dengan komunitas Adat Dayak untuk menciptakan mata pencaharian dari hutan hujan tanpa harus menebangnya.
Hari ini, upaya tersebut terasa semakin mendesak.
El Niño melanda Kalimantan Barat dengan keras. Kekeringan berkepanjangan membuat hutan dan lahan gambut menjadi sangat kering, memicu kebakaran hutan di berbagai wilayah. Di sekitar Sintang, tempat fasilitas pengolahan Forest Wise berada, asap telah memenuhi udara selama berminggu-minggu.
CEO Forest Wise, Dirk-Jan Oudshoorn, berbagi cerita dengan kami tentang kondisi terkini di lapangan:
“Kebakaran ini bukan sekadar bencana alam—ini adalah krisis buatan manusia. Deforestasi selama puluhan tahun akibat penebangan kayu, pertambangan, dan kelapa sawit telah menghilangkan daya tahan alami lahan ini.”
Dirk menjelaskan bagaimana sumur-sumur mongering dan permukaan air yang sangat rendah mengganggu transportasi di Sungai Kapuas yang adalah sungai terpanjang di Indonesia. Hal ini juga memicu kenaikan harga barang di komunitas-komunitas yang lebih jauh ke pedalaman. Baginya, ini menjadi pengingat nyata akan keterkaitan antara perubahan iklim dan pentingnya melestarikan serta memulihkan hutan hujan.
Hutan hujan yang sehat adalah salah satu penyerap karbon alami terpenting, karena dapat menyimpan sejumlah besar karbon di dalam pohon dan tanah, alih-alih melepaskannya ke atmosfer. Hutan hujan juga menyimpan kelembaban dan membantu suatu wilayah bertahan menghadapi musim kering.
Namun, melindungi hutan membutuhkan lebih dari sekadar mengakui nilai lingkungannya. Hutan perlu menciptakan nilai bagi masyarakat yang tinggal di dalam dan di sekitarnya.
Di sinilah peran Forest Wise.
Didirikan sebagai perusahaan sosial pada tahun 2018, Forest Wise bekerja sama dengan komunitas Dayak untuk menciptakan nilai ekonomi dari produk hutan hujan yang dipanen secara berkelanjutan dan menghubungkannya dengan pasar global. Produk-produknya meliputi illipe butter, virgin coconut oil, dan gula aren.
Salah satu produk terpentingnya adalah buah tengkawang, yang dipanen dari pohon tengkawang asli. Pohon-pohon ini telah menjadi bagian dari kehidupan hutan masyarakat Dayak selama beberapa generasi, dengan pengetahuan memanen dan praktik adat yang diwariskan secara turun-temurun. Buah tengkawang diolah menjadi illipe butter, bahan alami yang digunakan oleh perusahaan makanan dan kosmetik.
Forest Wise membayar harga premium untuk produk-produk ini kepada petani lokal, menciptakan sumber pendapatan tambahan dari hutan yang lestari. Saat ini, jaringannya mencakup sumber dari lebih dari 200.000 hektare hutan hujan.
Seperti yang dijelaskan Dirk:
“Dengan cara ini, hutan hujan menjadi lebih bernilai secara ekonomi dibandingkan jika diubah menjadi perkebunan monokultur.”
Beneficial Returns pertama kali mendukung Forest Wise melalui The Reciprocity Fund, yang menyediakan pembiayaan bagi usaha yang mendukung komunitas Adat. Seiring dengan pertumbuhan usaha dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan, Beneficial Returns kemudian memberikan empat pembiayaan tambahan dengan total US$450.000 untuk membantu Forest Wise membiayai panen buah tengkawang mereka.
Kini, komunitas-komunitas di seluruh Kalimantan Barat kembali menanam pohon tengkawang. Pohon-pohon ini dapat hidup lebih dari satu abad, menjadikannya sebuah investasi jangka panjang bagi hutan sekaligus bagi generasi yang akan bergantung padanya.
Saksikan The Value of a Tree, video pendek yang indah produksi Forest Wise, untuk melihat langsung hubungan antara masyarakat dan hutan hujan ini.
Dengan menciptakan peluang ekonomi dari hutan yang lestari, Forest Wise menunjukkan cara nyata untuk menghubungkan mata pencaharian, konservasi hutan, dan ketahanan iklim jangka panjang, sehingga membantu memastikan bahwa nilai hutan ini dapat terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Photo credits: ©Kemal Juffri for Panos Pictures/Food and Land Use Coalition
